Sabtu, 23 Juni 2012

Menilik Sejarah Lebih dalam




Secara gengsi, Iran dan Amerika memang bersitegang, tapi secara visi-misi, mereka punya cita-cita yang sama, menghapuskan Islam dari muka bumi.


Tak salah jika mereka berpadu membuat sebuah hagemoni baru untuk menguasai daerah Kawasan (Timur Tengah). Tapi dalam beberapa sisi, mereka saling membuat antisipasi satu sama lain. Karena Iran tidak 100% percaya Amerika, dan begitu sebaliknya. Meski sama-sama mempunyai misi menghancurkan Islam, mereka tetap mengejar gengsi leluhur yaitu Syiah (yang bercampur Persia) dan Yahudi (dengan ideologi Zionis).


Meski sama-sama berwajah Arab, orang Iran tidak merasa sebagai ras Arab, karena mereka lebih bangga jika menyebut diri mereka sebagai ras Persia.


Persia adalah salah satu imperium terbesar yang pernah ada di muka bumi. Menyamai Bizantium Romawi.


Setiap kali membunuh muslim, mereka tak ketinggilan mengucapkan "Matilah Arab!"


Ideologi Zionis dan Syiah sudah muncul jauh sebelum anak dari Aminah dan Abdullah lahir ke muka bumi. Termasuk juga ideologi Katolik dan Nasrani. Bisa dikatakan Islam adalah ideologi terakhir dari berbagai macam ideologi yang mampu bertahan lintas massa.


Zionis dan Syiah muncul dari paham yang sama. Pagan. Namun masing-masing berkembang dari ras yang berbeda, hingga memunculkan gengsi yang berbeda pula. Pada dasarnya mereka muncul dari golongan yang sama. Yahudi.


Syiah lahir pada masa Khilafah Arrasyidah, dan mereka terus berada dalam tekanan selama masa pemerintahan Bani Umayyah. Sistem monarki yang berjalan turun temurun selama hampir satu abad.


Paham Syiah baru mulai memunculkan dirinya pada masa akhir pemerintahan Abbasiyyah yang berlangsung selama tiga abad.


Artinya, Syiah bergerilya melalui gerakan bawah tanah dan terstruktur dengan sistematis dilengkapi dengan anggota yang terorganisir dengan baik. Dan mereka mampu bertahan dalam tekanan selama lebih dari 400 tahun.


Templar Knight dan Assasin merupakan dua pasukan khusus yang memiliki tempat spesial di masing-masing kubu. Templar sebagai pasukan khusus dari Kerajaan Eropa (yang saat itu dikuasai Inggris dan Perancis, dan mereka bersekutu). Sedangkan Assasin dengan beladiri Thifan menjadi pasukan khusus di kubu Bani Abasiyyah. Sejarah Assasin sangatlah panjang, mereka merupakan produk lama Syiah yang sengaja di susupkan ke dalam tubuh Islam dan dimunculkan di era perebutan Yerussalem. Sementara Templar merupakan produk baru Zionis yang disusupkan ke dalam Kerajaan Eropa (Katolik), sebagai salah satu penguasa besar saat itu.


Katolik ingin mengambil Yerussalem dari Islam. Sementara Syiah dan Zionis berpadu dan 'menonton' pertikaian keduanya dari kejauhan yang berlangsung selama 300 tahun. Kemudian saling membuat makar hingga terus berkelanjutan. Secara kasat mata kemenangan ada pada Islam. Tapi Zionis dan Syiah ikut merasakan dampak besarnya, dan sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Menguasai Eropa. Dalam hal ini, Syiah sedang membantu Zionis memuluskan misinya. Karena Syiah tidak terlalu berkepentingan di Eropa.


Misi mereka masih sangat panjang, dengan tetap disertai persiapan antisipasi yang matang antar keduanya jika salah satu berkhianat, meski dalam sejarahnya hampir tidak ada pengkhianatan diantara mereka, kecuali hanya segelintir, seperti kasus Andalusia dan Sevila yang memiliki posisi strategis antara Eropa dan Timur Tengah. Selain itu tidak ada. Andalusia dan Sevila jatuh ke tangan Nasrani yang berada dibawah kendali Syiah. Di sini Zionis 'mengalah', mungkin karena sudah merasa terbantu dengan para Assasin yang mendukung mereka untuk masuk ke Eropa.


Pada abad pertengahan, misi besar Zionis dan Syiah dikacaukan oleh seorang pemuda berpaham Atheis. Yang kita mengenalnya dengan nama Hitler. Pemuda yang mempunyai ambisi besar untuk menaklukkan Eropa di era Middle Age. Ras Yahudi yang tadinya mendominasi Eropa dihabisi tanpa pandang bulu oleh Hitler. Hingga akhirnya Hitler mati bunuh diri.


Masih ingat tentang Muslim Albania yang menyelamatkan Yahudi dari kekejaman Nazi? Abdul Hussein Sardari, atau yang biasa dikenal dengan nama Sardari.


Sardari bukan Muslim. Ia adalah orang penting Syiah yang ditugaskan untuk menyelamatkan ras Yahudi yang nyaris tak tersisa di Eropa. Perhatikan kata 'Hussein' yang terdapat dalam namanya. Itu adalah nama salah satu Ahlul Bait yang dipuja dan disembah oleh Syiah.


Sebagian besar Yahudi Eropa di migrasikan ke Iran oleh Sardari yang memang merupakan perintah dari struktur.


Memasuki Abad 20, dimana Khilafah Utsmani runtuh, dan hampir serempak seluruh umat di dunia menggunakan paham Kolonial dan Sekuler, terjadilah Revolusi Industri di Britania Raya. Dampaknya begitu besar bagi Eropa dan dunia Islam. Eropa berkoloni, dan Islam terpecah belah.


Yasser Arafat yang tadinya hendak menyelamatkan Yerussalem justru berada di bawah tekanan dan malah berkhianat. Hingga muslim dari berbagai dunia berkumpul untuk menyelamatkan Yerussalem dengan menegakkan Jihad di negeri Anbiya.


Eropa yang dipimpin Inggris tidak mampu menghadapi perlawanan gerakan Jihad di Palestina. Hingga memaksa mereka untuk masuk melalui jalur dalam. Di sini, peranan Saudi Arabia sebagai negara Muslim panutan dimanfaatkan oleh Eropa. Raja Abdul Aziz melakukan salah satu pengkhianatan terbesar dalam sejarah. Ia menjanjikan Palestina yang aman pada para Mujahid. Dalam kondisi yang tenang ini diam-diam Amerika dan sekutu membangun pangkalan Angkatan Laut terbesarnya di Timur Tengah, di pesisir Saudi Arabia. Dan mulai memasukkan Ras Yahudi dari berbagai belahan dunia ke Palestina.


Pada saat itu, Islam, Yahudi, dan Nasrani sempat hidup tenang secara bersamaa. Namun karena Zionis mempunyai misi ganda, yaitu menguasai Yerussalem sepenuhnya dan mendirikan negara mandiri di atas tanah Quds serta membantu Syiah menguasai Timur Tengah, maka diusirlah Muslim dan Nasrani dari tanah Quds. Kondisi muslim yang tidak siap jihad memaksa mereka untuk terusir.


Pada 1992, Saddam Hussein ingin menghacurkan pangkalan militer Amerika di Saudi dengan mengirimkan pasukan militer terbaiknya ke Laut Hitam, karena merasa Amerika adalah perusak suasana di Timur Tengah. Namun karena kalah teknologi militer yang mana Saudi dipasok senjata-senjata canggih di eranya oleh Amerika, maka memaksa Irak mundur dari perseteruan.


Isu yang kita dengar, Perang Teluk antara Saudi dan Irak itu terjadi karena perebutan kekuasaan minyak. Faktanya tidak demikian. Itu hanyalah isu yang dibuat CNN, salah satu jaringan media global Zionis yang kerap kali memberitakan hal-hal tak bertanggung jawab. Saddam Hussein merupakan keturunan Syiah yang sepertinya berkhianat pada Syiah dan memihak pada rakyat yang mayoritas sunni dan kerap mendengar suara rakyat. Dalam sejarah kepemimpinannya ia pernah membantai Suku Kurdi yang mayoritas Syiah. Mungkin ada maksud tertentu yang ia lakukan.


Semakin lama, Syiah dan Zionis merasa bahwa Saddam adalah rekan yang berkhianat, dan sudah sepatutnya dicap sebagai musuh. Hingga akhirnya pada 2004 Irak diinvasi oleh Amerika, dan kekuasaan Saddam berakhir di tiang gantung.


Usaha-usaha Zionis dan Syiah dalam memasukkan kekuasaan mereka ke dalam negara-negara Kawasan masih terus dilakukan hingga kini.


Sejak 2009, Amerika sudah keteteran mengirimkan pasukannya. Karena mereka beberapa kali ditimpa krisis global. Kondisi finansial Amerika buruk. Ditambah demo yang terus-menerus dilakukan warganya agar tidak melanjutkan peperangan di negara Kawasan. Karena banyak anak yang kehilangan ayah dan perempuan menjadi janda. Ditambah lagi rakyat Amerika tidak melihat dengan jelas maksud dan tujuan pemerintahnya menjadi pemeran yang sok pahlawan.


Sejak saat itulah Syiah mengambil peran utamanya dalam melanjutkan misi. Zionis hanya punya teknologi, tidak memiliki SDM dan dana yang cukup.


Tapi ada lagi kejadian di luar skenario Syiah dan Zionis. Adalah pemuda bernama Muhammad Al Bouazizi yang mengacaukan semuanya, ketika ia membakar diri di depan istana presiden Tunisia, Ben Ali.


Semua penduduk dunia mengalihkan pandangannya ke Timur Tengah. Terjadi revolusi besar-besaran di sana.


Rezim boneka Tunisia runtuh. Disusul pemerintah Syiah Yaman, jga Qatar. Dan pergolakan terus berlanjut menjadi estafet yang mendebarkan, dan serba tidak pasti. Baik di kalangan Syiah, Zionis, dan Muslim, semuanya berpacu berusaha mengamankan Harta Yang Sedang Tumpah.


Masih ingat Libya? Amerika tak berkutik untuk mencaplok negara minyak itu saat kondisi di negara itu memanas. Sudah terlalu ngos-ngosan. Aksi cepat dari kelompok Ikhwanul Muslimin dalam mengawal rekonstruksi negara terjadi cukup cepat, sistematis, dan terorganisir. Semua itu terjadi setelah Muslim Jihadi berhasil mengacaukan militer nasional dan asing, hingga ada kesempatan bagi Ikhwan untuk mengawal negara. Syiah dan Zionis kecolongan.


Pengawalan ketat dari kalangan muslim itu tak lain atas keberhasilan Muslim mengamankan posisi di setiap lini yang mereka kuasai. Jihadi dengan pasokan senjata dan SDM yang terlatih. Hizbut Tahrir dengan mobilisasi masa yang luar biasa. Ikhwanul Muslimin dengan sederet pengalaman dan pahit manisnya politik di berbagai negara Islam.


Secara tidak sadar Muslim telah bersatu padu dan berbagi tugas di masing-masing pos, meski di lapangan terjadi 'persengketaan kecil' dan saling menyalahkan. Ya, mungkin sikap saling menyalahkan itu terjadi karena menganggap apa yang sudah dilakukan oleh masing-masing tim itu belum maksimal. Itu semua buka perkara yang pokok. Itu hanya perkara kecil yang tak perlu diperdebatkan terus-terusan.


Disusul Mesir, Huni Mubarok tidak pernah menyangka bahwa ratusan ribu rakyatnya akan membuat tenda-tenda di Tahrir Square. Faktanya yang hadir di sana adalah sekumpulan gelombang masa Muslim (ditambah beberapa Katolik lokal) yang hadir dari seluruh belahan dunia. Islam sedang menyambut estafet kemenangannya di sana.


Di Mesir, Ikhwanul Muslimin dan Salafy bersatu padu mengawal polemik politik yang terjadi pasca mundurnya rezim Mubarak. Termasuk membuat tekanan hebat kepada militer yang juga punya ambisi mengambil alih Harta Yang Tumpah.


Kali ini Suriah. Di mana Syiah sudah frustasi dan mengekspresikan frustasinya dengan membantai begitu banyak Muslim tak berdosa. Amerika yang tak bisa apa-apa selain menonton. Beberapa dari mereka mengarahkan untuk merubah sasarannya. Bagi Zionis, Timur Tengah sudah sulit untuk direbut saat ini. Maka langkah mereka selanjutnya adalah mencari pertahanan baru untuk menyelamatkan Ras Yahudi dari Timur Tengah dan Eropa. Sementara Syiah ingin tetap melanjutkan ambisi menaklukkan Mekkah dan Madinah, untuk menghancurkan makam para Sahabat Mulia.


Ya, mereka mencari target baru sebagai tempat untuk menarik nafas, sebelum akhirnya melanjutkan peperangan. Sasaran mereka selanjutnya adalah negara yang penuh dengan berbagai maca kekayaan alam, berbagai macam suku, berbagai maca bahasa. Begitu banyak warna di negara tersebut. Negara itu adalah negara dimana saya sedang menulis catatan ini. INDONESIA.


Paham Syiah dan Zionis mulai merebak di sini. Pusat-pusat Zionis di Sulawesi dan Kalimantan, serta Syiah di Jawa dan Sumatera.


Syiah dan Zionis sadar bahwa Indonesia punya kekuatan Pancasila, sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk berperang dengan senjata. Satu-satunya hanya melalui jalur politik. Sekarang perebutan sesungguhnya itu ada di Ibu Kota, liahtlah mereka yang maju menjadi calon-calon DKI 1. Mereka mempunyai ambisi masing-masing.


Saya tidak perlu menyebutkan afiliasi. Karena di sini saya hanya ingin menulis tentang sejarang ideologi. Anda bisa melihat semua itu dari masa lalu.


Kalau di Suriah, Palestine, dan negara lainnya mungkin kita melihat ada ratusan juta korban fisik, maka di Indonesia kita akan melihat ada begitu banyak korban moral. Merajalela.


Sementara ideologi Katolik dan Nasrani sudah hampir punah, karena digeser oleh berbagai gempuran ideologi Hedon yang penuh Syubhat. Islam tetap terjaga, meski tak luput dari warna 'pertikaian kecil' di sana dan di sini.


Bersiaplah untuk menghadapi semua kemungkinan itu.


* * *


Ke depan, ideologi yang masih tetap bertahan hanyalah Zionis dan Islam. Sementara sejarah Persia akan berakhir dengan musnahnya paham Syiah dari muka bumi.


Termasuk juga musnahnya Katolik dan Nasrani, dengan mulai terpinggirkannya 'iman' mereka oleh Al Wahn, cinta dunia dan takut mati.


Ada satu ideologi yang ada sejak Adam hingga akhir zaman. Adalah ideologi Hedon, yang selalu memiliki banyak penggemar. Tak pedulis usia, bangsa, keturunan, dan tujuan, Hedon tetap memiliki pengikut lintas massa.


Akhirnya hanya akan ada 3 ideologi yang bertahan. Islam, Zionis, dan Hedon. Dimana paham-paham yang musnah itu akan lari dan 'terbuang' ke kubang Hedonisme. Termasuk juga yang berguguran dari Islam.


Perseteruan abadi tetap ada antara kaum yang membangkan dan Islam.


“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran bagi kaum yang berfikir.”


Sumber: catatan Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar